Fiction

Kereta Datang Terlambat

Desember 2000

Jam dinding besar di stasiun pinggiran kota sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Matahari mulai meninggi. Laki-laki yang katanya hari ini akan memakai stelan jas hitam dan sepatu pantofel siap membawanya pergi dari kota ini serta memenuhi janjinya untuk menikahi Aini belum juga menunjukkan batang hidungnya barang sesenti saja.

Dengan wajah gusar dan tangan terkepal, Aini menatap lekat-lekat setiap rangkaian kereta yang begitu saja melewatinya. Jika dihitung, sudah tiga jam Aini berdiri mematung disana. Rasa kesal yang tertahan nampak dari setiap dia menghentakkan kaki mungilnya ke ubin yang tidak lagi berwarna putih bersih.

Jika satu jam lagi laki-laki itu tidak sampai disini, Aini akan diseret ke kamarnya dan terduduk diam menunggu lagi sampai akad nikah selesai, ketika semua orang mengucap sah secara bersamaan dan suaminya datang untuk menjemputnya, membawanya keluar dari rumah berisi dua orangtua serakah yang amat mencintai uang.

***

Benar kata Aini, tepat satu jam kemudian, tiga orang suruhan dari calon suaminya telah datang. Wajah mereka sama sekali tidak bersahabat khas orang-orang suruhan yang tidak mempunyai hati.

“Aku bisa jalan sendiri. Gak usah ditarik kayak gini!” teriaknya.

Lengan putih Aini ditarik paksa, meninggalkan bekas merah dikulit putih bersihnya. Tas besar miliknya yang terduduk begitu saja dilantai juga diambil paksa. Aini pasrah, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan saat ini karena satu-satunya jalan keluar dari semua kerumitan ini tidak kunjung datang.

Wajahnya semakin tertunduk lesu ketika sampai dirumah. Tenda biru sudah terpasang sejak semalam. Saat Aini pergi secara sembunyi-sembunyi tadi subuh, riuh ramai para tetua dan orang-orang yang akan memasak di dapur besar belakang rumah, mulai berdatangan, melipir lah ia ke dekat sumur timba yang masih sepi dan gelap, memudahkan ia untuk pergi sejauh-jauhnya.

Tapi sekarang keadaan sudah semakin ramai, pak penghulu pun sudah hadir. Dan laki-laki yang tidak Aini kenal sama sekali itu, calon suaminya, sudah duduk manis dengan pakaian pengantin adat Belitung. Sedang Aini yang hanya memakai kaos biru lengan pendek dengan rok selutut warna serupa, dikunci di dalam kamarnya. Sudah tidak ada waktu lagi untuk merias, kata ibunya. Beberapa prosesi pernikahan adat pun terpaksa terlewati begitu saja.

***

Bulir air mata perlahan menetes dikedua pipinya. Sedih dan kesal dengan keadaan, Satu pun tidak ada orang yang dapat ia percayai kini, termasuk Rudi. Laki-laki yang sejak subuh tadi ia tunggu di stasiun. Perjanjian mereka teringkarkan, semua ucap manis kata cinta memang hanya terdengar indah ditelinga. Nyatanya sekarang tidak ada Rudi disisinya. Aini ingin mengakhiri hidupnya saja sekarang.

“Aini, kamu kemana saja tadi? Semua orang sibuk mencari kamu, termasuk aku.”

Pintu kamar terbuka. Dan pertanyaan dari laki-laki yang kini menjadi suaminya itu, membuatnya semakin muak. Tangisnya belum juga reda, biar saja membanjir sampai malam menjelang, ia tidak peduli.

***

Juli 2003

Saat Aini membuka mata, harum bunga mawar lah yang pertama kali memenuhi rongga hidung. Aini menggeliat, selimut dan sprei berwarna putih selembut sutera melingkari tubuh kecilnya. Beberapa kelopak bunga mawar juga terselip diantara bantal-bantal. Semalam suaminya mengajak Aini untuk dapat menemaninya pergi ke luar kota. Dan hadiah bagi Aini yang telah bersedia menemaninya adalah dengan berbagai fasilitas hotel mewah dan satu kotak merah berisi kalung berlian yang kini digenggamnya.

Sebenarnya Aini tidak butuh itu semua. Setengah hatinya tidak menyetujui jika ia terus-menerus berpura-pura berlaku demikian. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Meski dengan banyaknya luka memar dibahu kanan dan pelipis mata kanannnya, Aini mencoba untuk tetap tegar. Hadiah-hadiah ini sebagai hiburan bagi luka ditubuh dan sepi dihati.

Suami Aini kerap bersikap kasar. Sangat tempramen, moody, dan berlaku seenaknya. Mata manusia bisa ditutupi dengan harta berlimpah, tapi kesepian dihati tidak akan pernah bisa terobati dengan materi. Jadi sekuat apa pun Aini menahan semua kesedihan itu dengan menikmati semua pemberian suaminya, kesepian itu tidak pernah bisa benar-benar hilang.

Kedua kakinya melangkah ke jendela besar yang langsung menghadap kolam renang dan pantai, terlihat ombak saling berkejaran disana. Dengan VVIP Room ini, Aini bisa menikmati kolam renang seperti di rumah sendiri, suaminya telah pergi rapat dengan klien sejak satu jam yang lalu.

Harum bunga mawar semakin menguat ketika Aini menuju kamar mandi. Aini segera mandi dan berganti pakaian, dua jam lagi ia akan berjalan-jalan sebentar ke area pantai untuk menghilangkan kebosanan.

***

Dress selutut berwarna kuning gading dan sepatu flat berwarna senada menjadi pilihan Aini untuk sekadar mencari angin diluar dan menghilangkan penat. Tidak lupa kacamata model cat eye untuk mempercantik penampilannya.

Aini menolak tawaran dari pelayan hotel untuk mengantarnya berjalan-jalan menggunakan mobil, juga menolak untuk ditemani dengan salah satu orang suruhan suaminya.

Tidak terasa, Aini sampai dijalan setapak yang menghubungkan hotel dengan pantai, tidak banyak pengunjung hotel yang melewati jalan ini untuk sampai ke pantai, mereka lebih senang melalui pintu yang dekat dengan rumah makan.

Damai hatinya ketika perlahan angin laut membelai rambut panjangnya. Sejak dulu, Aini sangat menyukai pantai. Apalagi dengan Rudi yang setia menemaninya berlama-lama bermain air, membasahi sela-sela jarinya dengan air laut. Sakit jika ia mengingat tentang Rudi, meski indah namun begitu perih.

“Aini.”

Ilusinya membuat pikiran Aini kacau. Sampai-sampai ia seperti mendengar Rudi memanggil namanya pelan. Aini memejamkan matanya sejenak dan menggelengkan kepalanya, berniat mengusir segala pikiran yang menurutnya sudah menjadi sampah dan layak untuk dibuang.

“Aini.”

Kali ini suaranya lebih lantang dan semakin jelas terdengar ditelinga Aini. Mau tidak mau, Aini menolehkan wajahnya mencari sumber suara. Tidak mungkin jika suara yang baru saja terdengar adalah milik Rudi. Dia tidak pernah menampakkan dirinya sejak pengingkaran janji di stasiun kala itu.

Tapi yang didapatinya adalah Rudi. Benar-benar Rudi. Bukan Rudi dalam khayalannya selama ini, laki-laki yang berjanji akan membawanya pergi dan membangun keluarga kecil bersama-sama.

Aini tidak tersenyum sama sekali.

Pun Rudi.

Kedua insan manusia yang dulu saling mencintai itu terdiam. Terpaku pada apa yang dilihatnya masing-masing. Tanpa mereka sadari, rindu yang telah membeku selama tiga tahun, mencair seketika. Membasahi hati yang selama ini kering menanti pertemuan.

***

“Aini, kamu apa kabar?” barulah sebuah senyum mengembang diwajah Rudi. Terlihat jelas jika Rudi sangat merindukan Aini.

“Apakah penting menanyakan kabarku saat ini?” jawabnya sarkastis, tidak ada senyum atau basa-basi layaknya dua orang teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa.

Aini tidak butuh itu. Sebuah kebetulan yang tidak pernah Aini inginkan sejak Rudi benar-benar tidak datang untuknya. Baginya Rudi sudah mati, kebahagiaan yang sudah setinggi langit dititipkan, jatuh dan terbakar hingga menjadi abu. Dengan pasrahnya Aini rela jika dirinya dibeli oleh laki-laki yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

“Aku sungguh ingin menjelaskan semua yang terjadi di stasiun saat itu Aini, aku sama sekali tidak berniat untuk mengingkari janji, aku pun ingin segera bertemu dan membawamu pergi jauh dari sini, tapi apa daya, saat itu kereta yang aku naiki tiba-tiba anjlok. Aku berlari sekuat tenaga untuk bisa cepat sampai di stasiun tapi kamu tidak ada. Aku tahu aku terlambat, aku tahu kamu pasti sudah menjadi milik oranglain saat itu. Tapi aku tidak pernah berhenti mencari kamu, sampai detik ini, aku selalu mencari cara agar bisa berbicara padamu. Aku mohon maafkan aku.”

“Diam! Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun itu. Aku tidak sudi mendengarnya.” Tangan Aini gemetar, keinginan antara memeluk atau menampar laki-laki dihadapannya yang tidak tahu diri itu. Air mata Aini membanjiri pipi. Perih hatinya menerima kenyataan pahit yang terjadi.

“Maafkan aku Aini.” Rudi menggapai kedua lengan Aini.

“Jangan pernah menyentuh aku! Kamu tidak pernah tahu bagaimana rasanya hidup bersama laki-laki yang tidak pernah aku kenal. Setiap hari aku harus berpura-pura mencintainya, berpura-pura menjadi istri yang baik untuknya padahal aku tahu bagaimana bejatnya ia diluaran sana! Kamu tidak pernah tahu rasanya menjadi aku Rudi. Kamu tidak pernah tahu!”

Rudi menundukkan wajahnya, ia tidak mampu melihat kedua mata Aini basah oleh air mata karena luka yang ia ciptakan.

“Oh tapi kamu tidak perlu semenyesal itu. Aku bahagia dengan apa yang aku miliki sekarang.” Dengan sigap Aini menghapus air matanya sendiri.

Rudi menatapnya tidak paham, tapi hatinya mengerti betul jika Aini pasti marah besar padanya. Jauh didasar jiwanya, ia ingin Aini kembali. Ingin hidup bersama Aini, tiga tahun menjadi penguntit kehidupan baru Aini sungguh membuatnya tidak nyaman. Apalagi ketika ia menyaksikan sendiri Aini bisa tersenyum didepan laki-laki lain selain dirinya.

“Aku bahagia dengan hidupku sekarang. Kamu dengar itu? Aku bisa mendapatkan apa pun yang aku mau. Segalanya tanpa terkecuali. Aku bahagia!”

“Kamu berbohong Aini, apa yang kamu ucapkan tidak sama dengan apa yang kamu rasakan.” Rudi masih terus berusaha meyakinkan Aini agar kembali padanya tapi tidak berhasil.

“Untuk apa kamu tahu apa yang aku rasakan? Hah? Untuk apa?”

Rudi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Begitu besar luka yang ia buat dihati Aini. Tanpa pamit, keduanya menjauh, berjalan pada tempat yang berbeda dengan tujuan dan mimpi yang dulu mereka bangun bersama. Rancangan itu telah roboh bahkan sebelum mulai dibangun.

End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s